Jumat, 20 Oktober 2017

MAKALAH JURNAL KARAKTERISTIK IBU HAMIL DALAM MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSKESMAS ADIMULYO








DisusunOleh :
1.      Anwar Mujahid     ( A11501089)
2.      Deviana laela N.F  ( A11501110)
3.      Fifi Agustin           (A11501118)


PRODI S1 KEPERAWATAN A

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
TAHUN AJARAN 2016/2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga kami dapat menyusun makalah JURNAL tentang“KARAKTERISTIK IBU HAMIL DALAM MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSKESMAS ADIMULYO”.
            Dalam perkembangan pendidikan keperawatan, tidak terlepas dari dua aspek, yaitu keperawatan sebagai ilmu dan keperawatan sebagai profesi. Kedua aspek itu tidak bias dipisahkan. Keduanya saling melengkapi untuk menuju profesionalisme profesi keperawatan. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman  yang  benar mengenai keperawatan, sehingga konsep-konsep dasar dalam keperawatan menjadi fondasi yang kuat bagi perawat dalam menjalankan profesinya.
            Menyikapi realitas tersebut maka sangat diperlukan pemahaman yang jelas mengenai Kebutuhan Dasar Manusia sehingga perawat mempunyai pemahaman yang sama. Oleh karena itu penulis mencoba untuk menulisnya dalam bentuk makalah.
            Harapan kami, makalah ini bias bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Mengingat masih banyak kekurangan. Maka penulis meminta kritik dan saran demi kesempurnaan makalah  ini.







Gombong, 20 September 2017
            Penulis


PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sebagian besar ibu hamil di kecamatan Adimulyo  dalam mengkonsumsi tablet FE kurang yaitu 90 tablet selama kehamilan. Tablet Fe. Tablet Fe sangatlah penting untuk ibu hamil. Karena pada ibu hamil terjadi peningkatan plasma darah namun tidak diikutu dengan peningkatan sel-sel darah. Hal ini akan menyebabkan terjadinya hiperremia pada ibu hamil khususnya  trimester II. Kejadian ini akan bersifat abnormal jika ditemukan pada ibu hamil pada trimester I dan III dengan nilai Hb < 10 gr% sering disebut juga sebagai Anemia.
Anemia  sangatlah berbahaya pada masa kehamilan, persalinan maupun nifas. Akibatnya akan terjadi keguguran, bahkan bisa menyebabkan kematian. Angka kematian ibu hamil di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan Negara_negara ASEAN lain. Mengkonsumsi tablet Fe pada masa kehamilan sangat penting kerena dikarnakan kebutuan ibu dalah kehamilan ialah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk penambahan eritrosit. 
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ bagaimana karasteristik ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe di Puskesmas Adimulyo ?” .
C.    Tujun
1.      Mengetahui karakteristik ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe di Puskesmas Adimulyo.
2.      Mengetahui gambaran karakteristik responden berdasarkan umur.
3.      Untuk mengetahui gambaran karakteristik responden berdasarkan pendidikan.
4.      Untuk mengetahui distribusi frekwensi ibu hamil dalam mengkonsumsi tabet Fe di Puskesmas Adimulyo




PEMBAHASAN


A.    Abstrak
Sebagian besar ibu hamil dalam mengkonsumsi ablet Fe di Puskesmas Adimulyo masih cukup rendah yaitu kurang dari 90 tablet selama kehamilan. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kualitatif menggambarkan hasil penelitian yang berbentuk angka. Sempel penelitin adalah ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe di Wilayah Puskesmas Adimulyo sebanyak 30 orang. Alat ukur yang digunakan adalah wawancara karakteristik ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe. Data analisa menggunakan disttribusi fekrwensi. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa mayoritas usia responden 20-35 tahun (80%), mayoritas pendidikan SD ( 53,3%), dan mayoritas ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe di puskesmas Adimulyo 30-50 tablet (53,33%).
B.     Manfaat penelitian
Penelitian ini untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe
C.    Sempel Penelitian
Menurut (Arikunto,2006: 131) sempel adalah sebagian atau wakit populasi yang di teliti. Sedangkan menurut ( Notoatdmojo ,2005. 279) sempel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.
Apabila jumlah subyeknya besar dapat diambil 25% atau lebih. Sempel pada penelitian adalah seluruh populasi ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe sejumlah  30 orang.
D.    Metode pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriftif kuantitatif adalah statistik yang digunakan untuk menggunakan hasil penelitian yang berbentuk angka. Tapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas ( Sugiono, 2007).
E.     Analisa data
Teknik analisa data yang digunakan di penelitian ini menggunakan perhitungan stetistik sederhana yaitu persentasi atau proporsi ( Eko Budiarto 2002). Setelah data terkumpul melalui pengumpulan data, kemudian dilakukan pengumpulan data melalui tahapan antara lain editing, coding, tabulating, analisa.
F.     Hasil penelitian
1.      Usia responden
Jumlah  responden sebanyak 30 orang, dengan usia < 20 tahun sebanyak 20orang (6,7 %),  20-30 tahun sebanyak 24 orang ( 80%), dan lenbih dari 50 tahun sebanyak 50 orang (13,3%). Hal ini menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki usi 20-35 tahun.
2.      Pendidikan responden
Jumlah responden sejumlah 30 orang, dengan pendidikan SD sebnyak 16 orang ( 53,33 %), SLTP sebanyak 8 orang (26,67 %), SLTA 5 orang ( 16,6%), dan PT sebanyak 1 orang (3,33%). Hal ini menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki pendidikan yang rendah.
3.      Distribusi frekuensi  ibu hamil dalam mengkonsusmsi tablet Fe di Puskesmas Adimulyo
Berdasarkan distribusi frekuensi diketahui bahwa mayoritas usia responden 20-30 tahun (80%), mayoritas pendidikan SD (53,33%), dan mayoritas frekwensi ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe di Puskesmas Adimulyo 30-60 tablet Fe ( 53,33%).






PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitiannya dan pembahasanya maka dapat di tarik kesimpulan gambaran karakteristik responden berdasarkan umur di wilayah Puskesmas Adimuyo dengan kategori 20-35 tahun ( 80 %). Sedangkan berdasarkan pendidikan didapatkan kategori pendidikan SD 53,33 %. Distribusi frekuensi ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe di Puskesmas Adimulyo yaitu 30-60 tablet ( 53,33%), dengan usia mayoritas 20-35 tahun ( 80 %) dan pendidikan SD (53,33%). Pada kpuskesmas Adimulyo ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe sangatlah kurang karena hanya mengkonsumsi 30-60 tablet selama masa kehamilan.

B.     Saran
1.      Tenaga kesehatan lebih memberikan pengetahuan secara mendalm tentang manfaat tentang tablet Fe kepada responden, sehingga esadaran dalam mengkonsemsi tablet Fe meningkat.
2.      Bagi Responden diharapkan lebih patuh dalam mengkonsumsi tablet Fe ketika masa kehamilan, dengan cara meningkatkan engetahuannya tentang manfaat tablet Fe.





Daftar Pustaka
Mutoharoh, Siti (dkk). 2015. Jurnal Involusi Kebidanan. Karakteristik Ibu Hamil Dalam Mengkonsumsi Tablet Fe Di Puskesmas Adimulyo: vol 9.





























Fakta dan Kebenarannya dalam Filsafat Sejarah




Fakta
Banyak para ahli sejarah condong memandang fakta (historis) sebagai dasar pengkajian sejarah yang mutlak dapat diandalkan. Fakta dapat ditentukan dengan kepastian yang praktis tak dapat disangsikan dan andaikata terjadi kesangsian maka dalam praktek ini dapat dipecahkan.kadang-kadang fakta kurang memadai untuk menentukan sebuah peristiwa dengan kepastian. Becker memandang fakta historis itu sebagai sebuah lambing bagi segala sesuatu yang dikaitkan oleh para ahli sejarah dengan istilah fakta historis, ada segi-seginya yang menarik tetapi juga yang kurang menarik.

Kelemahan yang paling dicela dalam teori Becker ialah, bahwa ia mengabaikan perbedaan antara masa silam sendiri dan uraian kita mengenai masa silam. Sebagai akibat diskusi historis, kita memang akan mengaitkan makin banyak hal dengan suatu fakta historis tertentu dan sebaliknya mengaitkan fakta itu dengan fakta-fakta lain pula, tetapi ini tidak mengubah masa silam sendiri serta fakta-fakta dari masa silam. Dalam filsafat sejarah, tak ada suatu kesalahan yang demikian sering dan suka dilakukan oleh para filsuf daripada mengacaukan fakta dengan omongan kita mengenai fakta itu. Kekacauan ini demikian umum terjadi sehingga kita kita hamper ingin bertanya apakah dalam pengkajian sejarah ada alasan untuk menghapuskan saja perbedaan tersebut.
Berbagai Pernyatan Mengenai Masa Silam

Yang dimaksudkan dengan pernyataan historis adalah pernyataan mengenai fakta-fakta historis atau seperti juga sering dikatakan mengenai keadaan-keadaan pada masa silam. Di sebut masa silam adalah keseluruhan keadaan-keadaan itu . sifat keadaan itu beserta pernyataan-pernyataan kita mengenai keadaan itu dapat berbeda-beda, kadang-kadang, keadaan fakta itu hanya satu kali terjadi atau merupakan peristiwa unik. Namun tidak semua pernyataan umum yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan historis juga sungguh merupakan pernyataan-pernyataan mengenai keadaan-keadaan umum tertentu. Peristiwa unik mengenai diproklamasikannya kemerdekaan Negara kita terjadi di pegangsaan Timur 56 pada tanggal 17 Agustus 1945. Contoh baik mengenai keadaan-keadaan umum kita jumpai dalam ilmu alam. Menurut hokum Newton dua benda saling menarik dengan kekuatan yang sebanding lurus dengan masa benda-benda itu dan berbanding terbalik dengan pangkat dua jarak kapan saja
.Namun dalam pernyataan-pernyataan umum yang dirumuskan oleh para peneliti sejarah, pembatasan menurut tempat dan waktu rupanya tidak dapat dihindarkan.
Kebenaran
Sebuah wacana atau teks historis untuk bagian besar terdiri atas pernyataan-pernyataan singular dan umum mengenai masa silam. Pernyataan-pernyataan umum itu tidak lain dari suatu rangkuman mengenai pernyataan-pernyataan singular. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa sebuah teks historis pada pokoknya terdiri atas serangkaian pernyataan singular mengenai masa silam. Satu-satunya syarat agar sebuah teks historis dapat dipercaya, ialah agar ucapan-ucapan singular itu benar. Teks-teks historis dan pernyataan-pernyataan singular historis lebih berpretensi melimpahkan pengetahuan dan tidak hanya melakukan dengan tindakan bahasa. Dengan ucapan-ucapan singular seorang ahli sejarah melukiskan masa silam dan tidak bermaksud menunjukkan sesuatu kepada pembaca atau mengingatkan pembaca akan sesuatu yang sudah diketahuinya. Maka dari itu untuk pengkajian sejarah, teori tindak bahasa tidak membeberkan perspektif-perspektif yang berguna.

Konsep kebenaran sebetulnya tidak diperlukan. Barang siapa mempergunakannya, tidak menambah sesuatu pun pada apa yang telah dikatakannya. Sekalipun demikian para penganut teori ini bersedia menerangkan mengapa dan dalam keadaan apa kata benar ingin kita gunakan. Karena disini kita membicarakan kebenaran yang terdapat dalam pernyataan-pernyataan singular mengenai masa silam, maka kegunaan praktis dari suatu uraian historis dalam keseluruhannya, bukan alasan cukup untuk mendukung pendapat bahwa ucapan-ucapan singular berguna bagi perbuatan kita sekarang ini. Dengan demikian, teori kebenaran pragmatis tidak memaparkan perspektif yang menarik bagi pengkajian sejarah.
Teori korespondensi untuk menguji kebenaran bahwa suatu ucapan benar, bila terdapat keserasian (korespondensi) antara apa yang dinyatakan dalam ucapan itu dengan keadaan yang disebut dalam ucapan tadi di dalam kenyataan (historis). Secara formal teori korespondensi mendefinisikan konsep kebenaran, sedangkan teori koherensi menunjukkan criteria untuk mengecek kebenaran ucapan itu. Teori koherensi lebih serasi dengan praktek penelitian sejarah daripada teori korespondensi. Koherensi memang merupakan tolok ukur yang dipergunakan oleh para peneliti sejarah guna menentukan apakah sebuah pernyataan historis benar atau tidak.

Kesimpulan dapat kita ambil dengan uraian diatas bagi penelitian sejarah, hendaknya kita menyadarkan bahwa terdapat suatu kaitan erat antara apa yang kita lihat atau amati dalam kenyataan di satu pihak dan apa yang kita anggap benar di lain pihak yang merupakan titik pangkal untuk merumuskan ucapan-ucapan yang kita anggap serasi dengan kebenaran. Pengamatan empiris selalu dilatarbelakangi oleh teori-teori tertentu. Tak ada pengamatan yang polos dan murni. Inilah salah satu pendapat dalam filsafat ilmu pengetahuan yang kini umum diterima, baik dalam bidang pengkajian sejarah, ilmu-ilmu sosial, maupun dalam ilmu eksakta
dan bahkan dalam hidup sehari-hari.

Teori koherensi dan tesis bahwa pengamatan empiris selalu dilatarbelakangi oleh suatu teori masih menghasilkan sebuah kesimpulan lain. Karena konsep-konsep kita, teori-teori umum serta asumsi-asumsi kita turut menentukan bagaimana kita mengalami kenyataan (historis), maka konsep-konsep serta teori-teori tersebut dapat kita umpamakan dengan semacam lampu sorot yang dalam kegelapan menyapu kenyataan empiris (historis),lalu menyoroti objek-objek mana yang relevan dan ada artinya untuk diteliti dalam penelitian historis. Teori korehensi (serta tesis mengenai diwarnainya pengamatan empiris oleh teori-teori kita lebih dekat pada penelitian sejarah, seperti dilangsungkan serta pada perkembangan historiografi daripada teori korespondensi.
Kesimpulan
Menurut Becker sebuah fakta historis merupakan suatu lambang bagi suatu jaringan fakta-fakta yang saling mengait. Dalam diskusi historis, kebenaran dan kesahihan fakta-fakta historis ditentukan oleh suatu penelitian mengenai koherensi fakta-fakta yang kait-mengait dalam jaringan tersebut. Kita melihat pula bahwa Becker membuat kesalahan yang sering dilakukan oleh para peneliti sejarah beserta filsuf sejarah, ialah mengacaukan kenyataan historis dan omongan kita mengenai kenyataan itu. Kebenaran ucapan-ucapan singular yang mewujudkan suatu uraian historis belum menjamin kebenaran atau mutu uraian seluruhnya. Maka dari itu tidak memuaskan bila kebenaran suatu uraian historis kita gantungkan pada
kalimat masing masing.

Sumber : kuliah Filsafat Sejarah



KERAJAAN MARITIM HINDU-BUDHA DI INDONESIA (HABIS)

6. Kerajaan Kediri Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222....