Senin, 09 Oktober 2017

Kejayaan Islam di Spanyol: Filsafat dan Tassawuf



29 April 711 M, seorang panglima muda berdiri di suatu bukit. Matanya tajam memandang hamparan semenanjung Iberia Spanyol, yang kemudian dikenal dengan Andalusia. Ia menatap wajah para prajuritnya dan memerintahkan  untuk segera membakar 200 kapal armada perangnya. Setelah semua kapal terbakar, ia menyampaikan sebuah petuah yang sangat menarik dan heroik. Ia berkata “wahai para prajuritku yang gagah perkasa! Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang dan musush di depn kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran. Ingatlah, jadilah muslim terhormat atau mati sebagai syuhada”. Siapakah gerangan panglima muda itu? Ia adalah Thariq bin Ziyad. Sebuah nama yang sangat melegenda. Kelak, bukit tempat ia pertama kali menjejakkan kakinya di Iberia disebut sebagai “Jabal ath-Thariq” atau dalam lidah Barat dikenal dengan nama “Gibraltar”.
Misi Thariq bin Ziyad adalah membebaskan rakyat Spanyol dari kezaliman serta penindasan raja dan kaum bangsawan. Khususnya, raja Roderick dari Visighot yang telah memperkosa Florinda (putri tunggal Julian, gubernur Ceuta). Florinda akhirnya bunuh diri karena merasa terhina dan tidak kuat menanggung malu. Menurut Phillip K. Hitti, kelak Julian adalah penyedia kapal yang digunakan oleh pasukan muslim. Julian meminta kepada Musa bin Nushair (Gubernur Maghribi) untuk dapat membalaskan rasa sakitnya. Permintaan Julian disambut oleh Musa bin Nushair karena memang sudah lama umat Islam mendengar penderitaan rakyat yang tertindas di Spanyol dan belahan benua Eropa lain akibat sistem kerajaan yang absolut. Inilah alasan utama Musa bin Nushair menunjuk Thariq bin Ziyad yang masih muda untuk memimpin pasukan sebagai bentuk aktualisasi wahyu Illahiyah untuk membebaskan umat manusia dari segala bentuk kezaliman. Dalam ajaran Islam, penyelamatan nilai kemanusiaan adalah amanah Ilahi yang merupakan hukum paling tinggi.
Perbandingan antara kedua pasukan adalah 1:10. Pasukan Thariq bin Ziyad terdiri dari 7000 orang, sedangkan Raja Roderick 70000 dilengkapi pasukan berkuda. Meski tidak sebanding, tetapi kekuatan pasukan muslim saat itu teruji baik kualitas prajurit maupun pemimpinnya. Ini mengingatkan kembali saat 24000 pasukan Islam melawan 100000 pasukan Romawi di Yarmuk atau saat 48000 pasukan Islam melawan 130000 pasukan Persia di Qaddisiyah.
Tanggal 19 Juli 711 M, pasukan Thariq bin Ziyad mampu memenangkan pertempuran yang menentukan di Guadalete. Roderick mencoba melarikan diri dengan menyebrang sungai, tetapi ia mati tenggelam. Kemenangan Thariq bin Ziyad adalah tonggak dimulainya pencerahan di dunia Eropa. Dibawah kekuasaan Islam, agama Yahudi, Kristen dan Islam mampu hidup berdampingan secara harmonis bagaikan sahabat selama 600 tahun. Orang Yahudi mengalami kebangkitan spiritual di Spanyol (yang nantinya diikuti umat Kristiani di belahan Eropa lain). Mereka menimba ilmu dari para cendekiawan muslim dsn mereka tidak menjadi korban kebencian para penguasa Kristen seperti yang terjadi di wilayah Eropa lainnya. Tidak ada undang-undang propaganda kebencian Kristen atau Yahudi di wilayah kekuasaan Islam. Mereka dilindungi secara penuh. Bahkan menurut Karen Amstrong dalam bukunya Berperang Demi Tuhan, kaum Yahudi di negara Islam tidak dibantai. Tidak ada tradisi antisemitisme yang tumbuh. Mereka benar-benar diberi kebebasan untuk menjalankan urusan mereka sesuai keyakinannya. Pembantaian kaum Yahudi justru terjadi saat kelak Andalusia atau Spanyol lepas dari kekuasaan Islam, bebarengan dengan diusirnya kaum muslim.
Para sejarawan telah bersepakat bahwa pada zaman itu kekuasaan Islam berperan sebagai super power yang mewakili peradaban modern selanjutnya. Ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat dikembangkan. Tidak ayal lagi, Andalusia adalah mata rantai, bahkan pelopor yang menghantarkan lahirnya peradaban modern sebagaimana yang kita saksikan hari ini. Tanpa Andalusia, dunia akan tetap tersembunyi dalam kegelapan. Ajaran mulia Al-Quran telah melahirkan budaya toleransi yang belum pernah ada oelh bangsa-bangsa sebelumnya. Maria Rosa Menocal, spesialis sastra Iberia di Universitas yale berpendapat bahwa “toleransi merupakan aspek yang melekat pada masyarakat Andalusia”. Orang-orang Yahudi atau Kristen yang dianggap terlarang (di negeri mereka) dari seluruh Eropa datang ke Andalusia, dimana mereka diterima sebab toleransi. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menjadi sebab kemenangan Thariq bin Ziyad, yaitu dukungan penduduk setempat. Penduduk asli merasa terkesan dengan akhlak personel pasukan Thariq. Mereka merasa terbebaskan dan sangat percaya bahwa rakyat Andalusia akan memperoleh keadilan dan kesejahteraan serta terbebas dari penindasan raja, bangsawan, bourgouise dan landlord (tuan tanah) yang menyengsarakan penduduk dengan membayar pajak yang sangat tinggi. Sistem pemerintahan Islam yang bersifat desentralisasi telah memberikan kesempatan kepada setiap wilayah untuk mengembangkan perekonomiannya.
Puncak pencapaian intelektual muslim Spanyol terjadi dalam arena pemikiran filsafat. Dalam bidang ini, mereka membentuk mata terakhir dan paling kuat dalam mata rantai yang menghubungkan filsafat Yunani yang telah diubah oleh mereka dan kerabat mereka di Timur Tengah dengan pemikiran Latin Barat. Filsafat yang dikembangkan oleh orang Yunani dan agama monoteistik yang dikembangkan oleh nabi-nabi Ibrani adalah warisan paling kaya yang berasal dari kebudayaan Barat dan Timur kuno. Berkat para pemikir muslim Baghdad dan Spanyol Abad Pertengahan, dua arus pemikiran itu bisa dipadukan dibawa dalam harmoni menuju Eropa. Mereka memberi kontribusi yang sangat penting pada peradaban. Limpahan arus intelektual itu menumbuhkan gagasan dan pemikiran baru di Eropa Barat, terutama pemikiran filsafat dan menjadi titik awal berakhirnya “zaman kegelapan”, serta menyingsingnya fajar skolastik. Dikobarkan oleh persentuhan antara pemikiran orang Arab dan dipacu oleh khazanah pengetahuan Yunani kuno, ketertarikan bangsa Eropa dalam pengetahuan dan filsafat, memimpin mereka menuju kemandirian dan dengan cepat mengembangkan kehidupan intelek tual mereka sendiri yang hasilnya bisa kita lihat sendiri saat ini.
Diantara filosof-filosof pertama Arab Spanyol adalah Solomon ben Gabirol (Avicebron, Avencebrol), seorang Yahudi. Ia lahir di Malaga sekitar 1021 M, dan meninggal di Valencia sekitar 1058 M. Sebagai guru besar pertama aliran neo-Platonis di Barat, ben Gabirol sering disebut sebagai Plato-Yahudi. Seperti halnya ibn Masarrah, filosof sebelumnya, ia adalah pembela utama sistem filsafat yang berkiblat pada Empedocles. Ribuan tahun sebelum zamannya, filsafat Plato telah ditemukan oleh Philo, ahli filsafat Helenistik Yahudi dari Iskandariyah. Karya utama ben Gabirol adalah Yanbu’ al-Hayyah (Sumber Kehidupan). Karyanya telah diterjemahkan  ke dalam bahasa Latin pada 1150 M dengan judul Fonsvitae yang memainkan peranan penting dalam skolasitisme Abad Pertengahan, dan mengilhami munculnya aliran Fransiskan.
Pada abad ke-12 merupakan abad terbesar dalam sejarah pemikiran filsafat muslim-Spanyol. Abad ini dibuka oleh Abu Bakr Muhammad ibn Yahya ibn Bajjah (Avenpace, Avempace), seorang filosof, ilmuwan, dokter, musisi, dan komentator pemikiran Aristoteles. Ibnu Bajjah tumbuh di Granada dan Saragossa, dan meninggal di Fez pada 1138 M. Ibnu Bajjah menulis beberapa risalah dalam bidang astronomi yang mengkritik asumsi-asumsi Ptolemius dan membuka jalan untuk Ibnu Thufayl dan al-Bitruji. Risalah-risalah lain Ibnu Bajjah juga mengupas masalah kedokteran (materia medica) yang dikutip oelh Ibnu al-Baythar dan beberapa karyanya yang lain masih dalam bidang kedokteran, banyak memengaruhi pemikiran Ibnu Rusyd. Menurut Ibnu Khallikan, karya Ibnu Bajjah  yang paling penting, satu-satunya karya yang masih ada, selain surat perpisahan untuk temannya, adalah risalah filsafat berjudul Tadbir Al-Mutawahhid (De Regimine Solitarii, Rezim Yang Sendirian), yang hanya tersedia dalam bentuk abtrasi berbahasa Ibrani. Tujuan buku itu adalah menunjukan bagaimana manusia yang lemah bisa mencapai persatuan dengan intelek Aktif, dan untuk mengajarkan bahwa pencapaian kesempurnaan jiwa manusia secara bertahap dengan zat Ilahi merupakan tujuan filsafat. Para penulis biografi muslim menganggap bahwa Ibnu Bajjah adalah seorang Ateis.
Pemikiran filsafat Ibnu Bajjah telah membawa selangkah lebih maju oleh Abu Bakr (Abubacer) Muhammad ibn ‘Abd al-Malik ibn Thufayl, seorang ahli filsafat neo-Platonis yang belajar ilmu kedokteran di Granada, dan terakhir menjadi penasihat sekaligus kepala tabib istana Dinasti Muhwahidun pada masa khalifah Abu Ya’qub Yusuf (1163-1184 M). Sebuah kombinasi  jabatan yang tidak biasa didapat di sebuah negara Islam. Pada 1182 M ia menyerahkan posisinya sebagai tabib istana dan digantikan oleh kawannya yang usianya lebih muda dan juga seorang ahli filsafat yaitu Ibnu Rusyd, yang ia rekomendasikan kepada khalifah. Dua orang termasyhur ini menorehkan jasa yang tak terhapus di dalam istana Dinasti Muwahhidun, sebuah dinasti puritan dalam teologi, namun liberal dalam perlindungannya atas pemikiran filsafat. Lahir pada dekade pertama abad ke-12 M, Ibnu Thufayl meninggal pada 1185 M di ibukota Muwahhidun, Maroko. Penyokonganya yang kedua, khalifah Abu Yusuf al-Manshur (1184-1199) menghadiri prosesi pemakamannya. Karya besarnya adalah roman filsafat yang orisinil berjudul Hayy ibn Yaqzhan (Yang Hidup, Anak Kesadaran), yang gagasan utamanya menunjukkan bahwa manusia dengan kapasitas yang dimilikinya tanpa bantuan sedikit pun dari luar mampu mencapai pengetahuan tentang dunia yang lebih tinggi, dan secara bertahap bisa menemukan ketergantungannya dengan Realitas Puncak. Cerita ini, salah satu kisah paling orisinil, dan paling menghibur dalam sejarah sastra Abad Pertengahan, pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Edward Pococke (1671), lalu ke dalam sebagian besar bahasa Eropa, termasuk Belanda (1672), Rusia (1920), dan Spanyol (1934). Sebagian orang melihat bahwa novel Robinson Crusoe bersumber dari roman filsafat ini. Teori yang dibangunnya adalah teori evolusi. Ibnu Thufayl meminjam karakter kisahnya dari kisah pendek karya Ibnu Sina dengan judul yang sama, tetapi Thufayl mengambil inspirasinya dari penulis terdahulu sejak al-Farabi.
Filosof muslim terbesar yang dinilai dari pengetahuanya atas dunia Barat adalah astronom Arab-Spanyol, juga dokter dan komentator Aristoteles, yaitu Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd (Averoes). Ia lahir di Kordova pada 1126 m dari kalangan terhormat yang telah melahirkan beberapa teolog dan hakim. Pada 1169-1171 M, ia sendiri menjabat sebagai Qadhi (Hakim Agung) di Seville, dan dua tahun berikutnya di Kordova. Pada tahun 1182, ia dipanggil ke Maroko oleh Abu Ya’qub Yusuf untuk menggantikan Ibnu Thufayl sebagai dokter istana. Anak laki-laki Yusuf, dan pengganti al-Manshur mendepak Ibnu Rusyd pada 1194 M dengan tuduhan sebagai pelaku bid'ah karena kajian-kajian filsafatnya, tetapi belakangan ia dipanggil kembali ke Marakesy, tempat ia meninggal tidak lama setelah itu, tepatnya pada 10 Desember 1198 M. Jenazahnya kemudian dipindah ke Kordova. Sumbangan paling penting Ibnu Rusyd utnuk ilmu kedokteran adalah karya ensiklopedia berjudul Al-Khuliyat Fi Al-Thibb (Generalitas Dalam Kedokteran), yang diantaranya menyatakan bahwa orang yang telah biasa terkena cacar air tidak mungkin terserang lagi untuk kedua kalinya, dan ia juga menjelaskan fungsi retina dengan penjelasan yang bisa dimengerti. Tetapi sosok Ibnu Rusyd sebagai dokter tenggelam oleh sosok Ibnu Rusyd sebagai filosof dan komentator. Karya filsafatnya yang paling penting disamping komentar-komentarnya adalah Tahafut al-Tahafut (Kacaunya Kekacauan), sebagai jawaban terhadap serangan al-Ghazali atas rasionalisme dalam karyanya yang berjudul Tahafut a-Falasifah (Kekacauan Filsafat ). Berkat karya itulah Ibnu Rusyd menjadi filosof paling tenar di dunia Islam. Sedangkan di kalangan Yahudi dan Kristen, ia lebih dikenal sebagai komentator pada filsafat Aristoteles. Seorang komentator pada Abad Pertengahan adalah orang yang menulis sebuah karya ilmiah atau filsafat menggunakan beberapa karya penulis sebelumnya sebagai latar belakang, atau kerangka penulisan karyanya. Komentar-komentar Ibnu Rusyd merupakan rangkaian-rangkaian yang sebagian menggunakan judul-judul karya Aristoteles dan memparafrasekan isi karya-karya tersebut. Ibnu Rusyd tidak memahami bahasa Yunani, sehingga ia bersandar pada terjemahan yang dibuat para pendahulunya di Baghdad. Sebagai seorang filosof besar yang menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Rusyd tidak meninggalkan seorang pun penerus di dunia Islam. Ia lebih banyak diminati oleh dunia Kristen Eropa dibanding dunia muslim Asia atau Afrika.
Diantara sekian banyak filosof abad itu, yang paling berhak menempati tempat pertama setelah Ibnu Rusyd hanyalah kerabatnya sezaman yang beragama Yahudi dan berasal dari Kordova, yaitu Abu Imran Musa bin Maymun (bahasa Ibrani Mosheh ben Maimon, bahasa Latin Maimonides), dokter dan filosof Ibrani paling kondang di seluruh penjuru Arab. Ibnu Maymun lahir di Kordova sekitar 1165 M. Menurut al-Qifthi dan Ibnu abi Ushaybi’ah, bahwa di Spanyol Ibnu Maymun mengaku beragama Islam di depan umum, tapi diam-diam mempraktikkan keyakinan Yahudi. Di Kairo ia menjadi dokter istana khalifah terkenal Shalah al-Din (Saladin) dan anaknya al-Malik al Aziz. Sejak 1177 M ia menjadi kepala kantor keagamaan Yahudi di Kairo, kota tempat meninggalnya pada 1204 M. Sesuai wasiatnya, jenazahnya dibawa mengikuti rute perjalanan Nabi Musa dan dimakamkan di Tiberias. Ibnu Maymun dikenal sebagai astronom, teolog, tabib, dan yang paling penting sebagai seorang filosof. Ilmu kedokteran standar Galenisme pada zamannya yang berasal dari ar-Razi, Ibnu Sina dan Ibnu Zuhr, dihidupkan oleh kritik rasional yang didasarkan atas sejumlah penelitian pribadi yang ia lakukan. Ibnu Maymun menyempurnakan metode sunat atau khitan, menganggap hemorrnoid sebagai penyakit sembelit, menganjurkan metode  diet ringan memakan sayur-sayuran sebagai langkah pengobatan dan mengajukan gagasan ilmu kesehatan yang maju. Karyanya yang terkenal dibidang kedokteran adalah al-Fushal fi al-Thibb (Aforisme dalam Kedokteran). Karyanya dibidang filsafat berjudul Dalalat Al-Ha’irin (Penuntun Untuk Orang Yang Bingung).
Karya-karya Ibnu Rusyd kecuali yang terbesar, ditulis dengan bahsa Arab tetapi dengab karakter-karakter Ibrani, lalu sebagiannya diterjemahkan ke bahasa Latin. Karya-karyanya sangat berpengaruh melampaui batas ruang dan waktu, khususnya pada orang Yahudi dan Kristen. Memasuki abad ke-18, karya-karyanya tetap menjadi media utma untuk menyampaikan pemikiran pemikiran Yahudi ke non-Yahudi (gentile). Para peneliti modern menelusuri jejak-jejak pengaruhnya didapati pada pemikiran orang Dominika, sebagaimana terungkap dalam karya Albertus Magnus, dalam karya saingan Albertus yaitu Duns Scotus dalam pemikiran Spinoza, bahkan dalam filsafat Immanuel Kant.
Dalam dunia Tassawuf, sufi terkenal periode ini adalah seorang mistik Arab Spanyol yaitu Abu Bakr Muhammad bin Ali Muhyi al-Din ibn Arabi yang menjadi sufi spekulatif terbesar dalam sejarah tassawuf. Menurut Ibnu al-Jawzi dalam Mir’al al-Zaman, Ibnu Arabi lahir di Murcia (Mursiyah) pada 1165 M dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Seville sampai 1202, ketika ia melakukan ibadah haji dan kemudian tinggal di Timur sampai kematiannya di Damaskus pada 1240 M. Di kota itulah terletak makamnya yang terlindung di dalam masjid. Bagi para pengikutnya, Ibnu Arabi adalah al-syaikh al-akbar, guru besar. Ajaran-ajaran mistiknya terpatri dalam sebuah karyanya yang memukau. Diantara sekian banyak karyanya, yang paling berpengaruh adalah al-Futuhat al-Makkiyah (Penyingkapan Mekah) dan Fushush al-Hikam (Kantong-Kantong Kebijaksanaan). Dalam karyanya itu, terdapat satu tulisan berjudul Kimiyya al-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan), yang mengandung alegori esoteris, mengibaratkan pendakian seorang manusia menuju surga. Dalam karyanya yang lain, yang belum diterbitkan berjudul al-Isra ila Maqam al-Asra (Perjalanan Malam Menuju Puncak), ia mengembangkan tema pendakian Nabi sampai langit ketujuh. Karyanya itu muncul lebih dulu dari Dante Aliegri.
Menurut Al-Maqqari, dalam fikih, Ibnu Arabi menganut mazhab Zahiriyah (literalis) mengikuti kerabatnya setanah air, yakni Ibnu Hazm; sedangkan masalah keyakinan spekulatif, ia merupakan pelopor aliran Batiniyah (esoteris). Dalam hal filsafat, Ibnu Arabi dalam bukunya Turjuman al-Asywaq menjelaskan ia adalah seorang monist-panteistik, sebagaimana terungkap dalam ajaran wahdah al-wujud-nya (Kesatuan Eksistensi). Tema utamanya adalah bahwa segala sesuatu pra-ada sebagai ide-ide (a’yan tsabitah) dalam ilmu pengethuan Tuhan, yang darinya mereka berasal dana kepadanya mereka kembali. Tidak ada creatio ex-nihilo, dunia semata merupakan aspek luar dari Tuhan, yang merupakan aspek dalamnya. Antara wujud dan sifatnya, yaitu Tuhan dan alam semesta, tidak ada perbedaan yang nyata. Dari sinilah tassawuf Islam bersentuhan dengan gagasan panteisme. Tuhan mengejawantahkan diri-Nya pada manusia, dan manusia sempurna (al-insan al-kamil) adalah bisa dipastikan bahwa itu Muhammad SAW. Muhammad SAW adalah juga kalimah, logos, seperti halnya Isa. Seorang sufi sejati dalam pandangan Ibnu Arabi hanya memiliki satu penuntun, cahaya batin, dan akan bisa menemukan Tuhan dalam agama apapun.
Mazhab iluminasi, atau pencerahan (isyraqiyah), yang diwakili oleh filosof Spanyol terbesar Ibnu Arabi, tersebar luas tidak hanya memengaruhi lingkaran-lingkaran sufi Persia dan Turki, tetapi juga ikut membentuk mazhab skolastik Kristen yang sering disebut mazhab Augustinian, seperti Duns Scotus, Roger Bacon dan Raymond Lull. Orang Murcia lain, Abu Muhammad Abd al-Haqq ibn Sab’in (1217-1260 M), menganut dan mengembangkan pemikiran dan karya yang serupa dengan Ibnu Arabi. Kedudukaannya yang utama dalam lingkaran sufi memberinya gelar Quthb al-Din (poros agama). Tapi ia lebih dikenal dikalangan sufi berkat jawaban-jawaban yang ia tulis, al-Ajwibah an al-As’ilah al-Siqilliyah (Jawaban atas pertanyaan orang Sisilia). Menurut Kutubi, karya tersebut berisi pertanyan-pertanyaan penting tentang keabadian materi, sifat dan keabadian jiwa, objek teologi dan pertanyan-pertanyaan semisal itu yang ditanyakan oleh Frederick II dari Hohenstaufen yang disampaikan oleh Khalifah Muhahhidun Abd al-Wahid al-Rasyid (1232-1242). Ibnu Sab’in yang kemudian tinggal di Ceuta, memberikan jawaban yang cukup jelas dalam kerangka ortodok Islam, mengundang kaisar Sisilia Kristen itu untuk melakukan perbincangan pribadi. Ia juga mebolak hadiah uang yang disampaikan bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Karya terbaik Ibnu Sab’in yang lainnya adalah sebuah buku berjudul Asrar al-Hikmah al-Masyriqiyah (Hikmah Filsafat Iluminasi), masih belum diterbitkan. Dalam sejarah Islam, ia termasuk ilmuwan muslim yang cukup aneh karena melakukan bunuh diri dengan cara memotong urat nadi pergelangan tangannya ketika tinggal di Mekah.
Menurut Charles H. Haskins dalam buku  Studied in the History of Medieval Science, dalam proses peralihan khazanah ilmu pengetahuan berbahasa Arab ke dunia Barat, Toledo yang menjaga posisinya sebagai pusat penting pembelajaran Islam setelah kemenangan Kristen pada 1085 M, bertindak sebagai saluran utama. Disini, melalui inisiatif Uskup Besar Raymond I (1126-1152 M) dibangun satu sekolah khusus untuk menterjemahkan. Sekolah itu melahirkan sejumlah besar penerjemah sejak 1135  sampai 1284 M. Para sarjana didatangkan dari berbagai pelosok Eropa, termasuk dari Kepulauan Inggris, yang mendatangkan Michael Scot dan Robert Chester. Pada 1145 M, Robert menghasilkan karya terjemahan pertamanya berupa buku Aljabar karya al-Khawarizmi. Pada 1143 M, bersama Hermann “Dalmatian” menyempurnakan terjemahan al-Quran dalam bahasa Latin yang dipersembahkan untuk Peter Yang Mulia. Di kota Toledo juga didirikan sekolah kajian orientalisme yang pertama di Eropa pada 1250 M atas permintaan para pendeta dengan tujuan untuk mempersiapkan para missionaris Kristen ke kalangan Islam dan Yahudi. Nama Adelard dari Bath, yang dikatakan pernah mengunjungi Spanyol saat itu adalah ilmuwan Inggris terbesar sebelum Roger Bacon. Setelah sementara waktu tinggal di Sisilia dan Suriah, Adelard kembali pulang ke Latin pada 1126 M dengan membawa skema astronomi al-Majriti, yang didasarkan atas karya al Khawarizmi dan didalamnya membahas tentang tabel-tabel sinus. Ia juga menerjemahkan beberapa risalah tentang matematika dan astronomi , serta menjadi salah satu penerjemah pertama dari bahasa Arab ke Inggris. Michael Scot (w. 1236 M) yang berasal dari Scotlandia, yang merupakan salah satu pendiri mazhab Avveroisme Latin, pernah belajar dan bekerja di Spanyol sebelum menjadi astrolog istana Frederick II dari Sisilia. Di kota Toledo dia menerjemahkan beberapa karya astronomi lain milik al-Bitruji yang berjudul al-Hayah, dan karya Aristoteles yang berjudul De cuelo et mundo yang dikomentari oleh Ibnu Rusyd dan di Sisilia ia menerjemahkan buku berbahasa Arab yang di persembahkan untuk Frederick. Karya terjemahan yang paling penting adalah versi Ibnu Sina dari ilmu binatang Aristoteles, Abbreviato Avicenne De Animalibus. Tetapi penerjemah dari kota Toledo yang paling apik dan produktif adalah Gerard dari Ctemona, yang sebelum kematiannya pada 1187 M telah menerjemahkan ke dalam bahasa Latin versi al-Farghani dari Almagest-nya Ptolemius, komentar Al-Farabi terhadap Aristoteles, Elements karya Euclid, dan sejumlah risalah Aristoteles, Galen dan Hippocrates yang seluruhnya berjumlah sekitar 71 karya berbahasa Arab.
Menurut kitab Fihrist, Kaum Yahudi (baik yang ortodoks maupun yang telah pindah agama), memainkan peranan penting dalam proyek terjemahan ini. Salah satu penerjemah pertama diantara mereka adalah Abraham ben Ezra dari Toledo (w. 1167 M), seorang komentator Alkitab termasyhur yang menerjemahkan dua risalah tentang bisang astrologi karya sejawat seagama di Timur, Masya’allah (w 815) (kitab Fihrist Ibnu an-Nadhim). Dia juga menerjemahkan komentar al-Biruni atas skema astronomi al-Khawarizmi. Sejawat sezaman ben Ezra, yaitu John dari Seville (Joannes Hispalensis, sering dibingungkan oleh Kristen Mozarab), Yahudi yang telah dibabptis, hidup di Toledo antara 1135-1153 M dibawah perlindungan Uskup Besar Raymond dan menerjemahkan sejumlah karya aritmatika, astronomi, kedokteran, dan filsafat karya al-Farghani, Abu Ma’syar, al-Kindi, ben Gabirol, dan al-Ghazali. Dari semua karyanya itu, yang paling penting adalah risalah astronomi karya al-Farghani. John diperkirakan menerjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa daerah, bahasa orang Castile dan sebuah asisasi kemudian menerjemahkannya ke bahasa Latin.
Sekitar abad ke-13 M, ilmu pengetahuan dan filsafat Arab telah dipindahkan ke Eropa, dan karya orang Spanyol sebagai perantara telah melakukan tugasnya dengan baik. Pencapaian intelektual tertinggi yang bergerak dari Toledo melalui Pyrenees, menemukan jalan terbaiknya melewati Provence dan Alpine. Menurut “Vita Johannis Abbatis Gorziensis”, G.H. Pertz, Monumenia Germania historica scriptores rerum Germanicarum, pencapaian tersebut kemudian mencapai kawasan Lorraine, Jerman dan Eropa Tengah, juga melintasi samudra mencapai dataran Inggris Raya. Diantara kota-kota di sebelah selatan Perancis yang layak untuk disebutkan adalah Marseille, tempat Raymond membuat daftar planet berdasarkan skema edisi Toledo pada 1140 M dan Toulouse,  tempat Hermann “Dalmatian” menyelesaikan terjemahan al-Majriti dari buku Ptolemius yang berjudul Planispherium pada 1143 M, lalu kota Narbonne, tempat Abraham ben Ezra menerjemahkan komentar al-Biruni atas skema al-Khawarizmi pada 1160 M dan kota Montpellier, yang pada abad ke-13 M menjadi pusat studi kedokteran dan astronomi paling penting di Perancis. Di sebelah timur Perancis ada kota Cluny, yang terkenal dengan asrama biarawan tempat tinggal beberapa pendeta Spanyol, selama abad ke-12 M menjadi pusat utama penyebaran pengetahuan Arab. Kepala biarawan, Peter Yang Mulia, pada 1141-1143 M menyokong proyek terjemahan al-Quran pertama ke bahasa Latin, disamping beberapa pamflet yang menyerukan perlawanan terhadap Islam. Ilmu pengetahuan Arab, yang diperkenalkan ke Lorraine pada abad ke-10 M, menjadikan kota itu sebagai pusat pengaruh intelektual selama dua abad berikutnya,  dan kota Liege, Gorze, serta Cologne yang termasuk kawasan Lorraine menyiapkan lahan yang subur bagi tumbuhnya pengetahuan Arab. Dari Lorraine, tradisi ilmiah ini disebarkan ke bagian Jerman yang lainnya, serta kawasan Norman Inggris oleh para pelajar yang dilahirkan atau dididik di Lorraine. Pertukaran utusan antara raja-raja Jerman di utara dan penguasan-penguasa muslim di Spanyol sering dilakukan, dan menghasilkan kemajuan intelektual. Sejak 953 M Otto Yang Agung, salah seorang raja Jerman, dikirim sebagai utusan John, pendeta Lorraine yang tinggal di Kordova selama hampir tiga tahun, kemungkinan mempelajari bahasa Arab, dan pulang membawa manuskrip-manuskrip ilmiah.
Begitulah pengetahuan Arab Spanyol menyususpi wilayah Eropa Barat. Sungguh aneh, peradaban Arab Spanyol yang gemilang itu lalu kemudian dihancurkan oleh orang Eropa di kemudian hari yang notabene telah memberikan mereka ilmu pengetahuan.

Sumber :
K.H Toto Tasmara, 2010. Mengapa Yahudi Berprestasi?. Sinergi Publishing: Jakarta.
Phillip K. Hitti, 2014. History of the Arabs.(terjemahan  R. Cecep Lukman dan Dedi Slamet Riyadi). Serambi: Jakarta.
Gambar by republika.com

Sabtu, 07 Oktober 2017

Kolonialisasi Palestina




Menurut Sami Hadawi dan Bitter Harvest (Delmar, N. Y: the Caravan Books, 1979), pada tahun 1917 M, terdapat 56.000 orang Yahudi di Palestina dan 644.000 orang Arab Palestina. Pada tahun 1922 M, terdapat 83.794 orang Yahudi dan 663.000 orang Arab Palestina. Pada tahun 1931, terdapat 174.616 orang Yahudi dan 7500.000 orang Arab Palestina.
Kerjasama dengan Kolonialis Inggris
Berkat tempaan persekutuan diam-diam dengan Inggirs, kaum Zionis mendapat dukungan atas perebutan terhadap tanah Palestina. Proses ini diceritakan oleh seorang penyair dan analisis Marxist Palestina, Ghassan Kanafani :
“selain fakta bahwa bagian terbesar modal milik Yahudi dialokasikan ke wilayah pedesaan dan kehadiran kekuatan militer Inggris dan tekanan luar biasa yang dilakukan oleh mesin-mesin administrasinya, yang cenderung mendukung kaum Zionis, kaum Zionis hanya menerima hasil minimum sehubungan dengan pendudukan lahan tersebut. Meski demikian, mereka merusak status kepemilikan populasi pedesaan Arab. Kepemilikan kelompok, kelompok Yahudi atas tanah kota dan pedesaan meningkat dari 300.000 dunum (67.000 akre) pada tahun 1929 M hingga 1.250.000 dunum (280.000 akre) pada tahun 1930 M. Dalam hal ini, pembelian tanah merupakan hal yang tidak signifikan jika dipandang dari sudut pandang kolonisasi massal dan pendirian pemukiman Yahudi. Namun, pengambil-alihan satu juta dunum hampir sepertiga tanah pertanian yang berakibat pada pemiskinan para petani dan orang-orang Badui Arab”.
Ghassan Kanafani dalam Revolt in Palestine mengatakan, pada tahun 1931 M, 20.000 keluarga petani diusir oleh kaum Zionis. Lebih jauh, petani di negara-negara berkembang dan dunia Arab khususnya, bukanlah soal produksi, namun setara dengan gaya hidup secara sosial, religius dan ritual. Dengan demikian, selain kehilangan tanah, masyarakat Arab pedesaan sedang dibinasakan oleh proses kolonisasi.
Imperialisme Inggris telah menyebabkan terjadinya destabilisasi ekonomi atas perekonomian pribumi Palestina. Pemerintahan Mandat memberi privilese untuk modal Yahudi yang menghadiahkan 90% konsesi di palestina kepada mereka. Hal ini memungkinkan kaum Zionis menguasai infrastruktur ekonomi (proyek jalan, mineral laut Mati, listrik, pelabuhan dll). Menjelang tahun 1935 M, kaum Zionis mengontrol 872 perusahaan dari 1212 perusahaan di Palestina. Impor barang-barang produk kaum Zionis dibebaskan dari pajak. Undang-undang tenaga kerja yang diskriminatif yang diberlakukan pada kaum pekerja Arab menyebabkan angka pengangguran dan tingkat kehidupan dibawah standar bagi orang-orang yang tidak dapat menemukan pekerjaan.
Pemberontakan tahun 1936 M
Kehilangan tanah dan penindasan mempertinggi kesadaran orang-orang Palestina atas nasib yang menimpa mereka, dan menyebabkan terjadinya pemberontakan hebat yang berlangsung dari 1936 hingga tahun 1929 M. Pemberontakan tersebut mengambil bentuk pembangkangan sipil dan kerusuhan bersenjata. Para petani meninggalkan desa-desa mereka untuk bergabung dengan unit-unit perjuangan yang didirikan di kawasan pegunungan. Nasionalis Arab dari Suriah dan Yordania segera bergabung dalam unit-unit tersebut.
Pada tanggal 7 Mei 1936 M, diambil keputusan untuk tidak membayar pajak dalam suatu konferensi yang dihadiri oleh 150 delegasi yang mewakili seluruh populasi dan suatu pemogokan umum melanda Palestina. Inggris memberi  reaksi cepat dan kasar. Hukum darurat perang diumumkan 30 Juli 1936 M, kira-kira lima bulan setelah pemberontakan dan penindasan tersebar luas tak terkendali.  Seseorang yang dicurigai mengorganisasi atau bersimpati terhadap pemogokan tersebut akan ditangkap. Rumah-rumah diledakan di seluruh Palestina. Pada 18 Juni 1936 M, sebagian besar kota Jaffa dibumihanguskan oleh Inggris. Menyebabkan 6000 orang lebih menjadi tuna wisma. Rumah-rumah yang berada di sekitar tempat tersebut juga dihancurkan. Inggris mengirim sejumlah besar pasukan (sekitar 2000 personil) ke Palestina untuk memadamkan pemberontakan. Pada akhir tahun 1937 M dan awal tahun 1938 M, militer Inggris kehilangan kendali atas pemberontakan bersenjata rakyat.
Kaum Zionis sebagai Penegak Ketertiban
Dalam posisi inilah Inggris mulai mengandalkan kaum Zionis, yang memberi Inggris sumber daya unik yang tidak pernah mereka dapatkan di wilayah koloni lainnya; kekuatan lokal yang menjadi kekuatan kolonialisme Inggris dan mudah digerakkan untuk menekan penduduk pribumi. Jika sebelum masa tersebut kaum Zionis tetap menangani banyak tugas balas dendam terhadap penduduk pribumi, kali ini mereka memainkan satu peran lebih besar dalam penindasan yang meliputi penangkapan, pembantaian, dan eksekusi massal. Pada tahun 1938 M, 5000 orang Palestina ditahan, 2000 orang diantaranya dihukum untuk penjara; 148 orang dieksekusi gantung dan lebih dari 5000 rumah dirobohkan. Militer Zionis terintegrasi dengan intelijen Inggris dan menjadi polisi dari pemeritahan draconian Inggris. Suatu “kekuatan kuasi-polisi” dibentuk guna melindungi kehadiran para kaum Zionis bersenjata yang didukung oleh Inggris. Terdapat 2863 orang calon untuk kekuatan kuasi polisi ini, 12000 orang terorganisasi dalah Haganah dan 3000 orang dalam Organisasi Militer Nasional Jaboitynsky (Irgun). Pada musim panas 1937 M, kekuatan kuasi polisi dinamakan “Pertahanan Koloni-Koloni Yahudi” dan selanjutnya “Polisi Koloni” (Ghassan Kanafani).
Ben Gurion, menyebut kekuatan kuasi polisi sebagai suatu “kerangka kerja” ideal untuk pelatihan terhadap Haganah. Charles Orde Wingate, perwira Inggris yang berwenang, pada dasarnya adalah pendiri dari angkatan perang Israel. Ia melatih figur-figur seperti Moshe Dayan dalam terorisme dan pembantaian. Menjelang tahun 1939 M, kekuatan kaum Zionis yang bekerja sama dengan Inggris meningkat hingga 14411 orang yang terorganisasi dengan baik dalam sepuluh kelompok bersenjata. Polisi Koloni dipimpin oleh perwira Inggris, dengan seorang pejabat agen Yahudi sebagai pemegang komando kedua. Menjelang musim semi tahun 1939 M, kekuatan kaum Zionis mencapai 63 unit, masing-masing terdiri atas 8 sampai 10 orang laki-laki.
Laporan Peel
Suatu komisi pengawas kerajaan didirikan tahun 1937 M, dibawah arahan Lord Peel untuk mencari tahu penyebab pemberontakan tahun 1936 M. Komisi pengawas Peel tersebut menyimpulkan bahwa faktor utama penyebab pemberontakan adalah keinginan Palestina untuk merdeka dan kekuatan Palestina menyangkut penetapan suatu koloni kaum Zionis di atas tanah atau negeri mereka.
Laporan Peel menganalisis serangkaian faktor lain :
  1. Penyebaran spirit nasionalisme Arab di luar Palestina.
  2. Imigrasi Yahudi yang meningkat setelah 1933 M.
  3. Kemampuan kaum Zionis dalam mendominasi pendapat umum (opini publik) di Inggris karena dukungan diam-diam dari pemerintah Inggris.
  4. Ketidakpercayaan Arab terhadap niat baik pemerintah Inggris.
  5. Ketakutan orang-orang Palestina atas pembelian tanah oleh orang-orang Yahudi karena tak adanya tuan tanah yang menjual tanah dan terusirnya petani Palestina yang menggarap tanah-tanah tersebut.
  6. Pengelakan pemerintah Mandat terhadap hal-hal yang berkaitan kedaulatan Palestina.
Menurut Ghassan Kanafani, gerakan nasional terdiri atas kaum borjuis urban, tuan tanah, pemimpin religius dan para wakil petani dan pekera.
Tuntutan gerakan nasional tersebut adalah :
  1. Penghentian segera imigrasi kaum Zionis.
  2. Penghentian dan larangan perpindahan kepemilikan tanah Arab pada penduduk baru kaum Zionis.
  3. Pendirian suatu pemerintahan demokratis yang didalamnya orang-orang Palestina yang memiliki suara.
Analisis Atas Pemberontakan
Ghassan Kanafani memberi penjelasan mengenai pemberontakan tersebut :
“penyebab riil pemberontkan adalah fakta bahwa konflik akut dalam transformasi masyarakat Palestina dari suatu masyarakat Yahudi (Barat) borjuis industrial, telah mencapai tingkat tertinggi. Proses pengakaran kolonialisme dan proses tranformasi dari mandat Inggris menjadi pemukiman kolonial Zionis mencapai klimaksnya pada pertengahan tahun 1930-an dan faktanya kepemimpinan Palestina berkewajiban mengadopsi bentuk tertentu karena tidak mampu lagi untuk menjalankan kepemimpinan di saat konlifk telah memuncak”.
Kegagalan para mufti dan pemimpin religius lain, para pemilik tanah dan kaum borjuis, mendukung para pekerja dan petani menyebabkan rezim kolonial dan kaum Zionis mampu menghancurkan pemberontakan setelah 3 tahun perjuangan yang gagah berani. Dalam hal ini, Inggris terbantu oleh penghianatan rezim Arab tradisional, yang bergantung pada dukungan kolonial mereka.
Perjuangan nasional Palestina telah berlangsung sejak tahun 1918 M dan dibarengi dengan perlawanan bersenjata. Perjuangan ini juga meliputi pembangkangan sipil, mogok massal, boikot pajak, penolakan untuk membawa KTP, aksi-aksi boikot lain dan demonstrasi.

 “Wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi (Yahudi Zionis) dan Nasrani (Inggris) sebagai teman setiamu; mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu (muslim) menjadikan mereka teman setia (mitra bisnis, koalisi militer dll ), maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (orang yang berkoalisi dengan gerakan Zionis)”
Al-Maidah ayat 51

Sumber :
Ralph Schoenman, 2013. Dibalik Sejarah Zionisme (terjemahan Joko S. Kahar). Mata Padi Pressindo: Yogyakarta.
Gambar by okezone.com



Jumat, 06 Oktober 2017

Kejatuhan Islam di Spanyol, Hari-hari Terakhir Granada



Sejarah keemasan Islam telah mencatat, bahwa kejayaan Islam merambah ke Eropa, khususnya Spanyol atau Andalusia. Selama berabad-abad sejak jenderal Thariq bin Ziyad dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M, Islam mulai mengubah wajah Spanyol. Setelah mencapai Golden Age, dimana ilmu pengetahuan, kebudayaan, filsafat dan sastra mencapai puncaknya hingga menjadi asal mula zaman pencerahan Eropa, tiba saat nya mencapai titik terendah yang tinggal sejarah. Kaum muslim yang menguasai Spanyol hingga beradab-abad takluk oleh bangkitnya kekuatan orang Spanyol.
 Periode penaklukan kembali Spanyol (reqonquista) dimulai sejak jatuhnya kekhalifahan Umayyah pada abad ke-11. Namun, para sejarawan Spanyol menganggap pertempuran Convadonga dibawah pemimpin Austria, Pelayo tahun 718 M yang memukul mundur pasukan Islam sebagai tanda dimulainya penaklukan yang sesungguhnya. Penaklukan kembali Spanyol masif dilakukan setelah Castile dan Leon bersatu pada 1230 M. Pada paruh abad ke-13, proyek penaklukan dijalankan, hasilnya Toledo direbut pada 1085 M, Cordova pada 1236 M dan Seville pada 1248 M. Pada saat itu, terjadi dua peristiwa penting. Kristenisasi dan penggabungan Spanyol. Mengkristenkan negeri itu tentu saja berbeda dengan mempersatukan atau merebut kembali. Satu-satunya kawasan di semenanjung itu, tempat Islam berakar kuat adalah kawasan yang menjadi lahan pertumbuhan peradaban Semit dan Kartago. Kenyataan serupa juga dialami Sisilia. Secara umum, garis perpecahan antara Islam dan Kristen serupa dengan perpecahan dahulu antara peradaban Punik dan Oksidental. Di penghujung abad ke-13, di seluruh daratan itu banyak kaum muslim yang telah tunduk pada kaum Kristen melalui penaklukan maupun melalui perjanjian, tetapi tetap mempertahankan hukum dan agamanya. Mereka ini disebut Mudejar. Saat ini, banyak Mudejar yang telah melupakan bahasa Arab, lantas mengadopsi dialek Romawi dan sedikit berasimilasi dengan orang Kristen.
Proses kemajuan menuju penyatuan akhir Spanyol memang lambat tapi pasti. Wilayah Kristen terdiri dari Castile dan Aragon. Perkawinan antara Ferdinand dari Aragon dengan Isabella dari Castile pada 1469 telah mempersatukan dua kerajaan ini untuk selamanya. Penyatuan ini menjadi petaka atau meminjam istilah Phillip K. Hitti sebagai lonceng kematian bagi kekuasaan Islam di Spanyol. Menurut Ibnu Khaldun, para pemimpin Islam (Sultan Nashriyah) tidak dapat menanggulangi bahaya tersebut. Para sultan terakhir Nashriyah terlibat sejumlah pertikaian internal yang semakin memperlemah posisi mereka. Dari 21 orang sultan yang memerintah dari 1232 M sampai 1492 M, enam diantaranya memerintah dua kali dan satu sultan lain, Muhammad VIII atau al-Mutamassik, memerintah sebanyak tiga kali (1417-1427, 1429-1432, 1432-1444). Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa 28 raja itu rata-rata berkuasa sekitar sembilah tahun. Kehancuran akhir dipercepat oleh keberanian sultan ke-19, Ali abu al-Hasan (Spanyol: Alboacen, 1461-1482, 1483-1485) yang bukan hanya menolak membayar upeti yang sudah lazim, tetapi juga menyulut permusuhan dengan menyerang wilayah Castile. Ferdinand membalas dengan merebut Emessa, yaitu tempat di pegunungan Sierra de Alhama, dan menjaga jalan masuk sebelah barat daya yang mengarah ke Granada. Kemuadian, salah satu putra Abu al-Hasan, Muhammad Abu Adullah atas hasutan ibunya, Fatimah, yang menurut Al-Maqqari cemburu pada gundik Kristen Spanyol karena sang raja atau suaminya lebih mencurahkan perhatian kepada anak-anak gundik itu lalu mengobarkan pemberontakan kepada ayahnya. Didukung oleh pasukannya, sang putra memberontak dan berhasil merebut Alhambra pada tahun 1482 M dan menjadi raja penguasa Granada. Tahun berikutnya, Muhammad, raja ke-11 dari dinasti ini (nama belakangnya Abu Abdullah, Spanyol= Boabdil ) menyerang Lucena yang termasuk wilayah Castile, lalu ia dikalahkan dan ditawan. Abu al-Hasan kemudian menduduki kembali tahta Granada, dan memerintah hingga tahun 1485 M. Pada tahun itu, ia turun tahta untuk kemudian menyerahkan kekuasaan kepada saudaranya, Muhammad XII yang mempunyai nama panggilan al-Zaghall (pemberani) yang saat itu menjabat gubernur Malaga. Ferdinand dan Isabella melihat bahwa tawanan mereka sebelumnya, Abu Abdullah bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu proses pemusnahan kerajaan Islam. Berbekal uang dan pasukan dari Castile, sangat disayangkan Abu Abdullah menyerang pamannya pada 1486 M dan menduduki Granada dan menjadi aib bagi muslimin dan menjadi tontonan menarik karena terjadi perang saudara yang sengit.
Menurut al-Maqqari, setelah itu bala tentara Castile sedang bergerak maju. Satu demi satu kota-kota berjatuhan ke tangan mereka. Malaga direbut pada tahun berikutnya dan banyak penduduknya yang dijual dalam perbudakan. Kepungan mereka semakin menyempit ke sekitar ibukota yang sudah mati. Al-Zaghall tidak berhasil menghadang laju pasukan Ferdinand, sementara Abu Abdullah berperan sebagai sekutu Ferdinand. Dalam keputusannya, Al-Zaghall menyeru kepada para raja muslim di Afrika, tetapi upayanya gagal, karena mereka juga sedang sibuk berkonflik antara mereka sendiri. Akhirnya ia menyerah dan mundur ke Tilimsan dan di sana ia menjalani hari-hari terakhirnya dalam penderitaan dan kemiskinan. Ia menurut riwayat, mengenakan sebuah lencana pada bajunya yang compang-camping dan lencana itu bertuliskan “inilah raja Andalusia yang menyedihkan”. Akhirnya, hanya kota Granada yang tetap berada di tangan kaum muslim, dibawah kekuasaan Abu Abdullah.
Tak lama setelah al-Zaghall dikalahkan, Abu Abdullah diminta oleh patron-nya (1490 M) agar menyerahkan kota yang dikuasainya. Karena terbesit keinginan untuk menjadi seorang pemimpin yang pemberani, Abu Abdullah menolak memenuhi permintaan itu. Pada musim semi berikutnya, Ferdinand beserta 10.000 pasukan berkuda memasuki Granada. Ia menghancurkan ladang pertanian dan kebun buah-buahan, kemudian mengepung benteng pertahanan terakhir Islam di Spanyol dengan sangat rapat. Pengepungan itu ditekan lebih rapat membentuk sebuah blokade dengan maksud memaksa kota agar segera menyerah.
Al-Maqqari mencerikatan : “saat itu musim dingin terus bergerak membawa hawa yang sangat dingin dan salju tebal. Seluruh jalan masuk dari luar dipalang, makanan menjadi sangat jarang, harga-harga membumbung tinggi, dan kemelaratan merebak. Sementara itu, pihak musuh telah merebut setiap bidang tanah di luar tembok kota, sehingga pihak yang dikepung tidak mungkin bercocok tanam atau memperoleh hasil panen. Kondisi kian memburuk ... hingga bulan Safar (Desember 1491), kesengsaraan rakyat telah mencapai puncaknya”.
Akhirnya pasukan muslim sepakat untuk menyerah dan diberi jangka waktu dua bulan dengan syarat-syarat sebagai berikut : Sultan beserta seluruh pejabatnya mesti engucapkan seumpah setia kepada raja-raja Castile; Abu Abdullah akan menerima sebidang tanah di al-Basyarat (Spanyol: Alpujarras. Istilah ini berarti “padang rumput”, mencakup kawasan pegunungan di selatan Sierra Nevada sampai Mediterania); orang Islam akan dijamin keamanannya secara pribadi dibawah hukum mereka dan bebas menjalankan agamanya. Ketika periode gencatan senjata berakhir dan tidak ada tanda-tanda serangan dari orang Turki atau Afrika, orang Castile mulai memasuki Granada pada 2 Januari 1492 M dan salib menggantikan bulan sabit di menara-menara kota itu. Sultan beserta ratunya dengan berpakaian bagus, meninggalkan benteng merahnya dan pergi di tengah-tengah rombongan yang megah untuk tidak pernah kembali. Saat beranjak pergi, ia menolehkan wajahnya sejenak, melayangkan pandang terakhirnya ke ibukotanya itu, menarik nafas panjang dan akhirnya meledak dalam tangis. Ibunya, seorang jenius yang licik, diceritakan menatap kepadanya dan berkata “kau bisa menangis dengan baik layaknya seorang perempuan atas segala yang tidak bisa kau pertahankan sebagai lelaki”. Dataran tinggi berbatu tempat ia melayangkan pandangan perpisahannya yang menyedihkan itu masih dikenal dengan El Ultimo Suspiro del Moro atau desahan terakhir sang Moor.
Abu Abdullah mulanya tinggal di tanah yang dijatahkan untuknya, tetapi kemudian pergi memencilkan diri ke Fes, sampai kematiannya pada 1533 M atau 1534 M. Selama beberapa tahun setelah itu keturunannya pada masa al-Maqqari menyusun sejarahnya (1627-1628), masih menjadi objek derma, berada diantara para pengemis. Ferdinand dan Isabella melanggar perjanjian syarat perlindungan. Dibawah kepemimpinan pendeta yang dipercaya sang ratu, Kardinal Ximenez de Cisneros, sebuah kampanye untuk memaksa perpindahan agama dijalankan pada 1499 M. Kardinal itu awalnya berusaha menarik buku-buku Arab dari peredaran buku-buku tentang Islam dengan dibakar. Granada menjadi medan api unggun tempat pembakaran naskah-naskah Arab. Inqusisi ini kemudian dilembagakan dan terus berjalan. Semua muslim yang tetap tinggal di negeri itu setelah penaklukan Granada disebut Moriscos, yang awalnya ditetapkan kepada orang Spanyol yang memeluk Islam. Orang Spanyol muslim berbicara menggunakan bahasa Romawi, tetapi menulis menggunakan aksara Arab.
Menurut Lane-Poole dalam bukunya Moor in Spain, banyak orang Moriscos tentu saja merupakan keturunan orang Spanyol, tetapi kini mereka semua “diingatkan” bahwa leluhur mereka adalah orang Kristen, dan harus tunduk pada baptisme atau menolak mereka akan menerima dampak buruknya. Kaum Mundejar dikelompokkan bersama kaum Moriscos dan banyak diantara mereka yang menjadi Kripto-Muslim, yakni orang yang mengaku Kristen tetapi secara diam-diam mempraktikan Islam. Sebagian orang pulang dari persta pernikahannya yang digelar ala Kristen untuk kemudian secara diam-diam melakukan upacara pernikahan lagi dengan menggunakan ritual Islam. Banyak orang yang mengadopsi nama Kristen sebagai nama publik tetapi menggunakan nama Arab secara pribadi. Pada awal 1501 M, dikeluarkan sebuah dekrit kerajaan yang berbunyi bahwa semua muslim di Castile dan Leon mesti memeluk agama Kristen, atau jika tidak, mereka harus meninggalkan Spanyol. Tetapi kenyataannya, dekrit itu tidak ditetapkan dengan keras. Pada 1526 M, kaum muslim Aragon juga dihadapkan pada dua alternatif serupa. Pada 1556 M, Phillip II menetapkan sebuah hukum yang mewajibkan semua muslim untuk meninggalkan bahasa, peribadatan, institusi dan cara hidup mereka. Dia bahkan memerintahkan agar pemandian-pemandian di Spanyol dihancurkan karena dianggap sebagai peninggalan dari kekafiran. Operasi kedua dilancarkan di Granada dan menyebar sampai ke wilayah pegunungan di sekitarnya, tetapi kemudian dihentikan. Perintah pengusiran terakhir ditandatangani oleh Phillip III pada 1609 M, yang mengakibatkan deportasi en masse secara paksa atas hampir semua orang muslim di Spanyol. Diceritakan bahwa sekitar setengah juta muslim harus merasakan nasib ini dan mendarat di pntai-pantai Afrika atau berpetualang menggunakan kapal laut ke daratan-daratan Islam yang lebih jauh. Dari kaum Moriscos inilah sebagian besar korsair atau bajak laut Maroko berasal. Antara kejatuhan Granada sampai dekade pertama abad ke-17, diperkirakan bahwa sekitar 3 juta muslim dibuang atau dihukum mati. Persoalan kau Moor telah terpecahkan selamanya bagi Spanyol, yang karenanya menjadi sebuah kekecualian menyolok dari fenomena lazim bahwa dimanapun peradaban Arab tertanam, maka di situ peradaban itu akan terus hidup. “orang-orang Moor dibuang untuk sementara Spanyol Kristen bersinar seperti bulan dengan cahaya pinjaman; lantas muncullah gerhana, dan dalam kegelapan itu Spanyol tenggelam selama-lamanya”.

Sumber :
Phillip K. Hitti, 2014. History of the Arabs (terjemahan R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi). Serambi: Jakarta.
Gambar by wikipedia.org

KERAJAAN MARITIM HINDU-BUDHA DI INDONESIA (HABIS)

6. Kerajaan Kediri Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222....